Jumat, 29 Juni 2018

aku lelah

aku lelah menapak tanah
berlarian tanpa arah
mencari sosokmu yang telah fana
hilang tak bermuara

aku lelah menginjak bumi
dari pagi sampai ke pagi lagi
menantimu yang telah pergi
menemukan tambatan hati

aku lelah dengan kebisingan di kota
penghuninya selalu menertawakan luka
terus berteriak agar aku berhenti saja
tak pernah mengerti bahwa aku sedang berusaha

semesta
aku lelah...semesta

aku ingin rasanya mengangkasa
bebas mengudara
terbang tak terbatas
mencakar cakrawala
agar aku tahu dari atas sana
kau pergi kemana
bersama siapa
mendatangimu penuh tanda tanya
dan aku siap mendengar sebuah alasan
walau ku tahu akan sepedih apa

cahaya

dari bilik jendela
ku temukan remang cahaya
ku tatap lekat arah datangnya
masih sama seperti yang ku lihat terakhir kalinya; menawan

ku dekati dengan rasa menggebu
mendekat...dekat...hingga tak berjarak
perlahan ia meringis
mengajakku tuk cepat membidik

tanpa malu-malu
ia meraba setiap lekuk wajahku
membiarkannya terbenam syahdu
melupakan waktu yang sedang berlalu
agar ku nikmati semua ucap rayu

rupanya ia tahu
aku telah menunggu

Sabtu, 07 April 2018

rintik hujan

ialah rintik hujan

menyelinap dari balik awan hitam

tak perlu deras tuk menghujam

satu tetes saja:

mengingatkan kenangan

seutas harap

harap teriring

buatku tak lelap berbaring

menantimu tuk bersanding

dan mendengar tawamu yang nyaring

setidaknya pernah

aku tak seberuntung mereka
bercakap
bergurau

namun,
untukku
bertemu denganmu
megabadikan walau bersama-sama
sudah lebih dari cukup

sederhana saja

satu-satunya;
setidaknya pernah

dan lagi

dimensi waktu berangsur kilat
acapkali mundur melesat
memaksamu bernostalgia

lagi-lagi dia
rasa itu meraung
sebersit lalu menjadi-jadi

lagi-lagi dia
harap pun menyeruak
merenggut hasrat

dan lagi-lagi dia
mencabik jiwa
bermuarakan nestapa

padahal ia sekedar singgah
lalu terampas oleh sang jalang
kau masih saja mendamba?
bebal!

Sabtu, 10 Maret 2018

tetap

rasa tak kunjung asa

rindu tak kunjung temu

jalan tak pernah searah

haru tak kenal malu

bagaimanapun kabarmu

aku tetap menantimu

tergenapi

detik ini

separuh rinduku telah terlunasi

lalu separuhnya lagi akan tergenapi

jika kau pun hadir menemani

pukul 10:00

sudah pukul sepuluh

pelupuk mataku hampir melepuh

lantaran tak kuat menopang rindu

namun

kau masih saja acuh

Jumat, 10 November 2017

luap atau lenyap

berat
menyadari
memahami
rasa itu nyata
mengakar, mencuat, tumbuh kuat

kini aku
diambang ragu
dirundung lesu
terkapar lugu
mengumpat lantaran malu
jua kaku untuk mengaku

tetapi

bukan aku tak ingin
bukan pula aku tak mampu
namun

aku hanya tak ingin menjumpai patah hatiku (lagi)
pada orang yang salah (lagi)

jadi harus aku apakan?
luapkan?
atau
lupakan?

siapakah diriku?

Menatap, meratap

Jemari lentikmu
Tak bisa ku raih
Apalagi tuk ku genggam

Senyum manismu
Hanya bisa ku nikmati
Walau aku tak menahu
Kepada, dari, dan oleh siapa

Matamu yang tegas
Bertemu mataku sekali dua kali
Memunculkan harapan berkali kali
Memikat, merajai hati

Lalu,
Siapakah diriku?

Ada tapi lenyap
Hadir tapi tak dianggap
Dan yang kau kira aku hanyalah
Sebatas berlalu lalang
Sebatas bersenda gurau
Bahkan
Kau melihatku saja tidak

aku lelah

aku lelah menapak tanah berlarian tanpa arah mencari sosokmu yang telah fana hilang tak bermuara aku lelah menginjak bumi dari pagi sam...