Sabtu, 30 September 2017

akhir pilu

Kala itu
Tatkala hadirmu menjadi penawar syahdu
Tatkala tawamu menjadi pelipur pilu
Lorong waktu menjadi saksi bisu
Betapa kita sempat utuh
Nyata nan menderu

Aku kabarkan hari-hari
Aku beri porsi harga mati
Aku lantunkan sebuah melodi
Dan aku tawarkan pula jemari

Kita
Berlangsung seperti api di malam hari;
Membara dan menghangatkan

Kita
Lalui tiap senja dengan percikan canda
Menekuk lututkan rasa
Merengkuhkan jiwa
Merajai hari bersama

Pada hari itu
Sebuah ketakutan melanda
Sebuah tanda tanya menyeruak
Ketika gerikmu seolah berbeda
Yang tak berhasil ku tangkap dengan mata
Tetapi
Terasa meradang di dada

Aku lontarkan sebuah pertanyaan
"Mengapa akhir-akhir ini kau menghilang?"
Lalu
Kau hanya memaku, membisu
Tanpa aksara, tanpa suara

Hingga
Angin yang memberi kabar
Hujan yang menceritakan
Dan waktu yang menjelaskan

Bahwa

Kau telah pergi
Namun yang menyesakkan ialah:
Kau tak seorang diri
Telah bersama dia
Yang kini kau beri tahta
Melenyapkan harapan yang telah terangkai

Sungguh
Kesal yang teramat sangat
Merajuk pun tak berhak
Menangis pun tiada guna

Aku
Tinggalah separuh
Tak lebih mulia dari benalu
Serpihan bayangan yang semu
Tergeserkan oleh rasa cemburu
Akibat kau telah bercumbu

Selamat
Kau telah membuatku sekarat
Dihantui oleh rasa sakit yang mencekat
Pada sosokmu yang kini telah terikat

Bila ku tahu akhirnya akan seperti ini
Lebih baik ku simpan sendiri
Daripada kau menabur nyatanya kabur
Daripada kau singgah nyatanya enyah

Sekali lagi, Selamat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

aku lelah

aku lelah menapak tanah berlarian tanpa arah mencari sosokmu yang telah fana hilang tak bermuara aku lelah menginjak bumi dari pagi sam...