Kala itu
Tatkala hadirmu menjadi penawar syahdu
Tatkala tawamu menjadi pelipur pilu
Lorong waktu menjadi saksi bisu
Betapa kita sempat utuh
Nyata nan menderu
Aku kabarkan hari-hari
Aku beri porsi harga mati
Aku lantunkan sebuah melodi
Dan aku tawarkan pula jemari
Kita
Berlangsung seperti api di malam hari;
Membara dan menghangatkan
Kita
Lalui tiap senja dengan percikan canda
Menekuk lututkan rasa
Merengkuhkan jiwa
Merajai hari bersama
Pada hari itu
Sebuah ketakutan melanda
Sebuah tanda tanya menyeruak
Ketika gerikmu seolah berbeda
Yang tak berhasil ku tangkap dengan mata
Tetapi
Terasa meradang di dada
Aku lontarkan sebuah pertanyaan
"Mengapa akhir-akhir ini kau menghilang?"
Lalu
Kau hanya memaku, membisu
Tanpa aksara, tanpa suara
Hingga
Angin yang memberi kabar
Hujan yang menceritakan
Dan waktu yang menjelaskan
Bahwa
Kau telah pergi
Namun yang menyesakkan ialah:
Kau tak seorang diri
Telah bersama dia
Yang kini kau beri tahta
Melenyapkan harapan yang telah terangkai
Sungguh
Kesal yang teramat sangat
Merajuk pun tak berhak
Menangis pun tiada guna
Aku
Tinggalah separuh
Tak lebih mulia dari benalu
Serpihan bayangan yang semu
Tergeserkan oleh rasa cemburu
Akibat kau telah bercumbu
Selamat
Kau telah membuatku sekarat
Dihantui oleh rasa sakit yang mencekat
Pada sosokmu yang kini telah terikat
Bila ku tahu akhirnya akan seperti ini
Lebih baik ku simpan sendiri
Daripada kau menabur nyatanya kabur
Daripada kau singgah nyatanya enyah
Sekali lagi, Selamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar